Runtuhnya Karisma Tuan Guru

Penulis:

  • Agus Dedi Putrawan

Editor:

  • Ishak Hariyanto

Layout:

  • Luthfi Hamdani

desain cover:

  • sanabil creative

Dimensi dan Jumlah Halaman:

  • 14 x 21 cm (225 hlm)
  • Tahun Terbit : 2017
  • ISBN : 978-602-6223-42-5

Berbicara tentang perpolitikan tokoh agama: tuan guru, kiai, dan termasuk tokoh-tokoh agama yang secara umum menjadi tokoh sentral di setiap kehidupan sosial keagamaan dan kemasyarakatan di Indonesia secara umum dan Lombok secara khusus, menjadi isu yang seksi untuk diperbincangkan, terlebih mereka adalah tokoh yang ditiru dan diguru. Capital yang mereka miliki, termasuk di dalamnya adalah modal sosial yang dikenal dengan istilah ”karisma” digunakan sebagai tiket untuk bertarung di dalam kontestasi ruang politik pemilihan umum.
Secara teori, karisma adalah ”legitimasi” (akuan) dari masyarakat atas kehebatan, kemistikan, kesaktian, utusan tuhan, penerus nabi yang melekat pada diri aktor karismatik. Sebagian tuan guru yang beranggapan bahwa karisma menjadi modal utama dengan pengikut yang banyak dalam pemilu malah berguguran karena tidak banyak mendapatkan dukungan dari rakyat. Ada anggapan bahwa pesona tuan guru memudar dalam ruang politik pemilihan umum dan bahkan di ruang-ruang lainnya. Tulisan ini ingin mencari jawaban atas pertanyaan, bagaimana proses terbangunnya karisma tuan guru dan proses memudarnya karisma itu sendiri. Tujuan penelitian ini ingin memberi gambaran atas karisma yang dimiliki para tuan guru Lombok ketika bersentuhan dengan masyarakat Sasak serta ketertarikannya terhadap dunia politik. Tulisan ini merupakan penelitian lapangan yang menggunakan pendekatan sosiologi serta dihubungkan dengan teori tentang karisma yang dikemukakan oleh Max Weber yakni otoritas karismatik, otoritas tradisional dan otoritas legal rasional.
Masuknya teknologi informasi memang sedikit banyak mempengaruhi prilaku Tuan Guru baru di pulau Lombok. Mereka mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang sudah cenderung hedonis, pragmatis serta individualistis. Tanpa adanya re-orientasi Tuan Guru baru maka pandangan masyarakat sasak tentang institusi Tuan Guru masih memakai referensi jaman ketika lahirnya istilah Tuan Guru tersebut (sederhana, sufistik, anti kemapanan). Ekspektasi masyarakat terhadap para Tuan Guru baru mengalami kegoncangan, di satu sisi mereka merindukan figur Tuan Guru seperti zaman dahulu, di sisi lain para Tuan Guru baru menampilkan dirinya sesuai semangat zaman kekinian.

Scroll to Top