
Penulis:
- Ahmad Amir Aziz
- M. Firdaus
- Ahmad Nurjihadi
- Nurlita Lestiriani
- Lalu Suprawan
Editor:
- M. Firdaus
Layout:
- sanabil creative
desain cover:
- sanabil creative
Dimensi dan Jumlah Halaman:
- 15,5 x 23,5 cm (400 hlm)
- Tahun Perencanaan Terbit : 2026
Pembedaan antara Qur’ān sebagai proses komunikasi oral dan muṣḥaf sebagai kodifikasi tekstual, sebagaimana digarisbawahi oleh Angelika Neuwirth (2010), membantu memperjelas persoalan ini. Al-Qur’an lahir dalam situasi komunikasi, disampaikan secara berangsur, didengar, dihafal, dan direspons. Ketika kemudian ditulis dan dikodifikasi, bentuk tekstualnya tidak menghapus kapasitas komunikatifnya. Justru di sanalah terletak salah satu keunikan Al-Qur’an: bentuk linguistik yang tetap memungkinkan pengalaman yang terus diperbarui.
Buku ini berangkat dari keyakinan bahwa Al-Qur’an tidak cukup dipahami hanya sebagai naṣṣ yang dibaca atau muṣḥaf yang dilestarikan. Ia perlu juga dibaca sebagai khiṭāb yang memiliki struktur pengalamatan, pola komunikatif, fungsi tindak tutur, dan kapasitas untuk terus diaktualisasikan dalam berbagai medan resepsi. Dengan kata lain, Al-Qur’an bukan hanya sesuatu yang berbicara tentang manusia, tetapi juga sesuatu yang berbicara kepada manusia. Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi konsekuensinya besar bagi cara kita memahami wahyu, tafsir, iman, dan amal.
